Laman

Sabtu, 18 Mei 2013

MELATI DI UJUNG PELURU

NOVEL : MELATI DI UJUNG PELURU (Diangkat dari cerpen LIRIH)

Penulis : Bunga Rosania Indah
Harga : Rp. 34.000


Sinopsis :

"Maaf Sophia, apakah kau tak kuatir jika Vian benar-benar di terima di Akpol?"
"Maksudmu?"
"Hmm, kau tahu sendiri kan kakak kelas kita, kak Ivan, ceweknya banyak dan gonta-ganti saja kerjaannya setelah ia menjadi taruna Akpol."
Sophia tersenyum lalu tertawa kecil. "Ah, tidak semua Taruna Akpol demikian, aku percaya Vian tidak seperti itu."
***

HUMOR SERDADU

Buku Humor Serdadu (HS) berbeda dari buku sebelumnya. Buku HS dibikin untuk refreshing Om-om Tara ato Pak Pol yang mungkin lagi kelelahan menahan kaki kesemutan (apel pagi), Ibu-Ibu yang setia sehidup semati menanti datangnya ‘Bang Emon’, sista yang lagi galau nih karena menunggu pujaan hati tak kunjung ngajak pengajuan, hihiii... atopun galau lantaran LDR, ato siapa pun yang berhubungan dengan tentara dan polisi... Bapaknya, eyangnya, pacarnya, kakaknya, adeknya, atopun tetangganya tentara/polisi, semua kalangan boleh, deh!

JANGAN bayangin isi buku ini bakal buat sobat-sobat ketawa-ketiwi cekikikan sendiri kayak orang gila, bukan, bukan itu maksud penulis. Tapi buku ini hanya untuk refreshing aja.

KISAH LEMBAH HIJAU 2

Penulis : Bunga Rosania Indah

Kumpulan Cerpen Kisah Berlatar Dunia Tentara dan Cinta NKRI

Tebal : 200 Halaman



Cerpen : Hutan Hera Timor-Timur (KISAH NYATA)


Buku : KISAH LEMBAH HIJAU 2

Penulis : Bunga Rosania Indah

Sinopsis:


7 November 1976. Beberapa teman mengeluh jika makanan di pos ini kurang memadai, beberapa bulan belakangan ini tak pernah makan daging, menu makanan benar-benar minim. Koptu Darpani meminta ijin pada Danton (Komandan Pleton) untuk patroli bersamaku dan Kopda Gunanto, serta meminta ijin untuk berburu kijang atau kambing hutan untuk persediaan makanan pasukan di pos. Seijin Danton akhirnya kami berangkat dengan seragam PDL lengkap, sangkur, senter, Senjata SP-1, Magazen peluru dan paples (wadah air minum). Aku sempat merapikan baret hitam yang ku kenakan, baret dengan simbol tank dan tapal kuda dengan dasar warna kuning dan merah.


Secara beriringan kami mulai mendaki gunung, dan masuk ke hutan Hera. Hutan Hera sama seperti hutan pada umumnya, memiliki banyak pohon yang rindang. Aku berjalan bergantian pada posisi depan, mata kami mengawasi tiap jalan di depan, bersiap jika hewan perburuan muncul. Namun sayang, baik rusa ataupun kambing tak nampak batang hidungnya. Aku merasa ada yang aneh pada hutan ini...

Minggu, 31 Maret 2013

Kisah Pasukan M pada Pertempuran Laut Pertama yang dimenangi Serdadu Indonesia sejak Kemerdekaan

Pasukan M adalah pasukan yang dibentuk untuk menyelamatkan Bali yang diduduki tentara Sekutu. Pendaratan Sekutu di Bali dimulai pada Oktober 1945 di Kota Singaraja. Terjadi insiden penurunan bendera Merah Putih yang memancing kemarahan pemuda setempat. 

 

Kesaksian Kelasi Lin Supardi seorang Pasukan Katak ALRI yang menyusup ke Singapura

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang pada saat operasi Dwikora berpangkat Kelasi Dua (KLD) pada Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Sabtu, 30 Maret 2013

Jika Malaysia main klaim budaya Indonesia, mungkin saja Presiden Soekarno akan mengulang pidatonya saat Dwikora

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.